.quickedit{ display:none; }
Tampilkan postingan dengan label curhatku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhatku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Desember 2013

Haruskah

Banyak hal  yang ingin kucurahkan, tapi kepada siapa aku akan mencurahkannya.
Hatiku semakin bingung ketika aku harus memikirkan semua beban hidup yang menimpaku.

Tuhan.
Hanya kepada Mu apa pasrahkan hidup  ini..
Hanya pada Mu aku gantungkan keinginan ini

Terima kasih Tuhan,

Amin

Senin, 25 November 2013

PUISI



SEPERTI KITA
Karya : Abdul hadi WM

Seperti kita
Binatang bisa merasakan pedih dan sakit
Seperti kita
Binatang bisa merasakan senang dan bahagia

                Bila anak ayam berkumpul dengan induknya
                Mereka riang, bermain dan membagi makanan
                Namun bila induknya pergi dibunuh orang
                Mereka menciap gelisah sepanjang malam

Bedanya
Hewan tak bisa menangis
Dengan air mata
Seperti orang

                Bedanya
                Hewan tak bisa tertawa
                Dengan ha …  ha …
                Seperti kita semua

PUISI



JANGAN MENANGIS INDONESIA
Karya : Akudiat

Bencana dan keberuntungan silih berganti
Jangan menangis , Indonesia
Malang mujur silih berganti
Jangan menangis, Indonesia
Kejayaan dan keruntuhan silih berganti

                Jangan menangis, Indonesia
Manis dan pahit
Susah dan senang
Sakit dan bahagia
Lapar dan kenyang
Silih berganti

Jangan menangis, Indonesia
Tak ada puasa terus-menerus
Tak ada pesta terus-menerus
Pesta akan ditagih ongkos kenikmatan
Puasa akan ditemukan di hari lebaran

                Jangan menangis, Indonesia
                Tawa dan tangis silih berganti

Selasa, 03 September 2013

Rabu, 27 Februari 2013

Mulutmu Harimaumu

Benar kalo lidah itu tak bertulang. karena banyak sekali orang-orang yang mengatakan apa yang tidak ia lakukan. dan mengatakan sesuatu yang belum tentu benar kebenarannya. yang lebih parah lagi, mereka yang mengaku sebagai seorang muslim. sering kali mengatakan kebohongan dengan mengatakan bahwa itu seakan-akan benar. Na'udzubillah.

Sabtu, 01 Desember 2012

KATA HATI

Sekarang ini, rasanya hatiku ingin menjerit melihat keadaan teman-temanku. Mereka telah jauh melangkah, tapi aku belum bisa mengajaknya kembali. Aku hanya bisa berdo'a kepada Allah. Semoga mereka selalu diberikan kekuatan untuk menjalani hidupnya dan segera disadarkan dari kelalaiannya. Karena masih banyak yang harus dikerjakan, diusia mudanya yang sangat indah, dan usia muda yang tak akan pernah kembali lagi,masa muda itu adalah masa untuk kita nerkarya, masa untuk kita mengukir prestasi dan cita-cita.

Sabtu, 17 November 2012

PERGAULAN

Ternyata pergaulan itu dapat menyebabkan perubahan sikap seseorang. Pola pergaulan yang cenderung negatif, maka akan membawa kita pada sikap yang negatif pula. Banyak sekali contoh dapat kita lihat di sekitar kita. Ini contoh sederhana saja. Dulu aku mengenal dia sebagai gadis yang sangat santun dan muslimah, menutup aurat dengan baik serta taat beribadah, jujur saja dulu aku mengagumi kepribadian dan pendiriannya. Namun sekarang, tak tahu kenapa menurutku dia telah berubah 180 derajat. tadi aku melihatnya dengan rambut yang terurai indah, tanpa jilbab yang dulu setia menutupi mahkotanya. sebenarnya aku sedikit kecewa padanya, tapi apa hak ku. Aku bukan siapa-siapanya. Aku hanya berpendapat, mungkin perubahannya itu karena pola pergaulannya di luar sana. dulu dia berjilbab dan santun ketika masih duduk di bangku sekolah, sekarang setelah lulus dari sekolah, jilbab pun juga diluluskannya. Aku berdo'a kepada Allah. Semoga dia tetap sama seperti gadis yang aku kenal dulu, meskipun kita tanpa jilbabnya yang cantik.

Minggu, 07 Oktober 2012

CINTA

CINTA .... ? Sebuah kata yang sangat sakral bagi kaum muda. Apalagi kaum muda jaman sekarang. Seakan-akan Cinta itu adalah nyawa bagi hidupnya. Cinta menurut kaum muda adalah sebuah perasaan yang dimiliki/perasaan suka terhadap seseorang yang mereka anggap baik. Tanda-tanda Cinta itu datang ialah ketika kita merasa debar-debar di hati/merasa senang jika bertemu dengan seseorang. Tapi Cinta Tak hanya itu saja, Cinta itu bisa juga perasaan senang/sayang kita kepada orang lain, orang tua, dan yang terpenting ialah persaan senang kepada Sang Pencipta.

Sabtu, 15 September 2012

BUKAN TAULADAN

Memang, kau adalah pemimpin, tapi dimataku kau tak ada bedanya dengan para pecundang-pecundang itu, yang selalu bersikap manis tapi hatimu busuk.
Aku tidak marah, tapi hanya tidak suka dengan sikapmu yang selalu menyakiti orang-orang disekitarmu. apakah kau memang ditakdirkan untuk selalu menyakiti orang ?
Ataukah itu karmamu dari semua perbuatanmu masa lalu ????
Entahlah. hanya Allah lah yang tahu. dan hanya Allah lah yang pantas untuk menilaimu.

Kamis, 01 Desember 2011

SINOPSISKU


“Ya Allah, sebenarnya apa yang sedang kupikirkan, mataku sulit terpejam, hati pun terasa tak tenang”, gumamku dalah hati.
              “Aku tak bisa membohongi perasaanku, semakin kupikirkan perasaanku semakin sakit, bagaikan diiris-iris pisau tumpul yang tak henti”.
            “Jangan biarkan aku terbawa oleh perasaan ini, perasaan yang tak jelas yang membuat hati gundah”, tambahku.
            “Mir, ceritalah padaku,” pinta husen lagi yang semakin bingung melihatku.
            “Kita kan sudah kenal lama, jadi sudah seharusnya kita saling bantu, jika satu ada masalah maka yang satu juga akan membantu menyelesaikannya. Sama dengan kamu, kalau kamu ada masalah, maka aku akan bantu kamu semampuku”.
            Husen berusaha membujukkan supaya aku mau bercerita tentang masalahku. Tapi aku masih tak menghiraukannya.
            “Sen, bukannya aku gak mau menerima bantuanmu. Aku saja masih bingung dengan perasaanku sendiri. Beberapa hari ini, aku selalu gelisah. Perasaanku tidak tenang”, kataku menjelaskan. 
            “Aku selalu teringat keluargaku di rumah, sepertinya ayahku selalu memanggilku memimta aku untuk pulang sebentar. Aku bingung, apakah aku harus pulang atau tidak ?”.
            Keluargaku bukan termasuk keluarga kaya, tapi aku bahagia hidup dengan mereka. Karenamenurutku bahagia itu bukan dilihat dari harta tapi bahagia itu dilihat dari kita sendiri. Apakah kita nyaman dengan keluarga atau tidak.
            “Amir, kita memang orang yang pas-pasan, tapi ayah percaya kamu bisa meraih mmpimu-mimpimu. Ayah dan ibu sangat berharap kalau anak-anak ayah tidak mengulangi kehidupan ayah ini”. Pesan ayah padaku.
            Banyak sekali pesan ayah untukku. Pesan-pesan itu selalu kuingat untuk memotivasiku dalam belajar.
            “Banyaklah duduk dengan orang-orang besar. Banyakalh bertanya pada ulama. Dan bergaulalah dengan orang-orang bijak” (H.R. Ath Thabrani dari Abu Juhaifah)
            Pesan ayah sudah terpatri dalam pikiranku, ayah dan ibu adalah orang pertama yang memberiku motivasi untuk meraih cita-citaku. Orang tuaku memang tidak pandai tapi beliau bisa berpikir elebihi orang pandai.
            Besok adalah acara pawai ta’aruf memperingati Tahun Baru Hijriyah 1433 H. pawai ta’aruf yang diikuti oleh seluruh siswa-siswa dari SD s/d SMA se-kecamatan.
            “Sen, jadi ikut pawai to besok ?”, tanyaku pada sahabatku.
            “Liat aja besok”, husen tak begitu semangat menjawab pertanyaanku.
            Setiap tahun kami selalu mengikuti kegiatan pawai ta’aruf. Tapi pada tahun ini, rasa begitu beda. Entah karena apa, hatiku begitu semangat mengikuti kegiatan ini.
            “Sen ayo berangkat, kita sudah telat !”
            “Iya, sebentar !”.
            Kami berlari menuju sekolah yang kebetulan tak begitu jauh dari asrama.
            Dalam perjalanan pawai itu, aku melihat sosok gadis manis berkerudung putih, dia selau memberikan senyum kepada siapa saja yang ditemuinya. Subhanaallah, begitu indah dia. Semakin kuperhatiakan, perasaanku semakin tenang, sepertinya taka sing wajah itu. Hatiku mengatakan aku pernah kenal dengan dia ? tapi siapa dia. Aku tak mendapatkan jawabannya.
            Aku masih penasaran dengan paras cantik itu, senyumnya yang manis, wajahnya yang indah membuat hati yang melihatnya tak bias lupa. Terselip dalam pikiranku, foto masa kecil itu, rasanya tak jauh berbeda dengan gadis manis itu.
            “Apakah dia Farida, teman kecilku ?”.
            Banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam pikiranku, namun tak satu pun jawaban yang aku dapatkan. “Jika Firida, apakah dia masih mengenaliku ?”. pertanyaan-pertanyaan itu masih saja muncul bertubi-tubi.
            Farida memang sudah dewasa.kita berpisah sejak berumur 8 tahun. Aku duduk dibanku kelas dua SD dan dia di kelas satu. Farida pindah karena mengikuti orang tuanya yang dipindahtugaskan ke Surabaya. Semenjak itu kita jarang berkomunikasi, jadi wajar saja kalau kita tidak saling kenal.
            Farida ialah gadis yang sangat istimewa. Meskipun sudah lama tidak bertemu, dia masih saja sama dengan Farida kecil yang aku kenal. Gadis manis yang membuat orang terpesona jika melihatnya. Senyumnya bak senyum bidadari yang memancarkan sinar kebahagiaan.
            “Sen, aku baru saja melihat bidadari”, kataku terpesona.
            Husen melongo mendengarkan ucapanku. “Apa Mir, kamu melihat bidadari ? kamu lagi mimpi ya, mana ada bidadari jalan-jalan di bawah terik matahari, bidadari kesiangan kali, yang tadi malam begadang semalaman”. Jawabnya sembari mengejek.
            “Ya sudah kalau gak percaya”. Jawabku ringan.
            Kami melanjutkan perjalanan pawa ta’aruf yang baru dapat setengah jalan. Matahari memang menyengat, membuat cairan tubuh memancar deras keluar mengairi kulit yang kusam. Tapi aku tiadk merasakannya, karena senyum bidadari itu telah memberiku kesejukkan.
            Hari ini ada acara silaturrahim kelompok rohis antar sekolah dan aku terlibat di dalamnya. Acara sudah dimulai para peserta sudah mendaftar. Tak kusangka, aku melihat bidadari itu lagi. Dia masih tetap sama, gadis anggun yang lemah lembut.
            “Assalamu’alaikum”, sapaku memberanikan diri.
            “Wa’alaikum salam”, jawabnya lembut.
            Jantung berdebar semakin kencang kencang. Kuberanikn diri untuk memandang wajahnya yang indah. Kuulurkan tanganku untuk bersalaman. Dia hanya tersenyum tak mambalas.
            “Sepertinya kita pernah bertemu ?”, tanyaku mengawali obrolan.
            “Iya, aku juga merasa begitu, tapi dimana, kurang ingat”, jawabnya.
            Ternyata apa yang kurasakan sama dengan dia, kita merasa pernah saling kenal. Aku semakin yakin. Kalau dia benar-benar Farida. Aku berani memberanikan diri menebak namanya.
            “Kamu Farida ya ?” tanyaku ragu.
            Dia agak terkejut mendengar ucapanku.
            “Kamu kok tahu ?”, jawabnya.
            “Ini aku Amir, teman kecilmu dulu kitakan bertetangga, masih ingat ?” .
            “Masya Allah, aku hamper lupa, apa kabar ?”.
            “Alhamdulillah baik, gimana dengan mimpimu dulu ?”
            “ Oh … itu, alhamdulillah do’anya, sekarang aku sudah mendapatkannya”.
            Mendengar jawaban itu. Hatiku terasa pilu, jantungku seakan berhenti berdetak.  Bidadari yang kuimpikan selama ini ternyata telah menjadi milik orang lain. Mutiara putih yang aku cari telah ditemu oleh orang lain. Sungguh beruntung orang yang menemukannya. Aku masih belum percaya, bidadariku akan pergi lagi.
              
           

Selamat datang di blog RUMAH BACA, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!!